Pertemuan dan kenangan
Selamat malam ku ucapkan di malam yang sebenarnya masih cukup pagi untuk disebut malam... hahaha
Pasca lebih dari satu bulan tidak ada postingan di grup yang berusia seumur jagung ini, saya akan coba menuliskan sedikit cerita mengenai perjalanan yang baru saja berakhir beberpa menit lalu..
Hari ini, 6 September 2015 adalah hari terakhir Jateng Fair,sebetulnya agenda kumpul-kumpul ria sama sekali tidak tertuju pada Jateng fair, namun berhubung ternyata kawan-kawan saya tercinta di PK IMM Ibnu sina Undip adalah kaum jombs (ada juga yang engga,, tenang aja ziz , pan hahaha) yang belum pernah ke arena ini, maka kami pun berangkat kesana...
Tulisan unyuk ini adalah bentuk bahagia yang rasanya sayang untuk hanya disimpan di hati wakakakak...
Walaupun isinya cuma foto-foto tanpa menaiki satu wahanapun, saya rasanya sangat bahagia bisa bareng dede-dede emes saya (read : ichak, kubil,joko lelana alias rainggo, dan azazi alias aziz) serta 2 partner kece saya yang tampan rupawan (read : peqih,appan)...
Ngomong-ngomong ada dua hal yang akan dibahas dalam tulisan ini, pertama mengenai Ibnu Sina dan kedua mengenai Jateng Fair itu sendiri...
mari disimak bersama, cekidot...
Ibnu Sina. Ibnu Sina adalah nama dari pimpinan komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Universitas Diponegoro Semarang yang kebetulan tempat saya menimba ilmu (menimba loh bukan menuntut wkwkwk). Jangan tanya ke saya kenapa nama IMM nya Ibnu Sina, saya ga tau.. Kakanda sayapun belum ada yang bisa memberikan jawaban memuaskan mengenai hal itu (semoga dede emes ku tak bernasib sama kelak hahaha)...
Awal mula masuk IMM, sejujurnya adalah kebegoan luar biasa.. di kala saya masih berstatus maba, sahabat-sahabat saya menyebut IMM di kampus mereka masing-masing. Dan sialnya, mereka memoertanyakan kenapa saya ga gabung ke IMM padahal jelas-jelas dari kecil saya hidup dan besar di keluarga Muhammadiyah. Dari situ saya mencari IMM Undip dan melalui sosmed. Saya langsung mengikuti DAD dan menjadi anggota bidang keilmuan kala itu.
Atmosfer di IMM kala itu sangat aneh bagi saya, tidak sesuai harapan saya sehingga saya akhirnya off di semester 2. singkat cerita, saya kembali di semester 3 melalui proses teror kasih sayang dari beberapa kakanda dan ayunda .. lebih naas lagi, sayapun didaulat sebagai sekum mendampingi bebeb ocid (peace bang :D )...
Mungkin memang sudah jalan Tuhan, seiring berjalannya waktu, justru kedekatan luar biasa saya alami dengan teman-teman di komisariat. Bahkan mereka hadir ke rumah dan disambut baik oleh ibu saya yang sebelumnya sangat membenci kegemaran saya aktif di berbagai organiasasi..
Saya sempat mengajukan surat pengunduran diri meskipun akhirnya saya batalkan, dan saya bersyukur melakukan hal itu. Ibnu Sina memberikan saya banyak hal, keluarga, persahabatan, arti perjuangan, pantang menyerah, dan yang paling penting : gak baper. hahaha..
Walaupun konon saya diduga bertahan karena saya punya perasaan terhadap salah satu rekan di ibnu sina ( ini udah pernah saya jawab ketika bermain truth or dare di trem kopi ), saya rasa itu tidak benar. Ya saya akui saya punya perasaan terhadap salah satu rekan, tapi saya bertahan bukan karena itu..
Di ibnu sina saya menemukan 2 sahabat saya yang gila dan selalu membuat saya bersyukur memiliki mereka yakni adam dan nimas ( I miss you so much gengs).. Di Ibnu Sina saya juga menemukan keluarga, seumur-umur saya belum pernah ngerasain disayang dengan tulus oleh kakak2 dan adik2 ( Sayang banget sama kalian : Mbak Caca dan Nabila yang tak lain adalah partner belanja plus perawatan, ichak yang tak lain partner curhat masalah masa depan, tiyak yang tak lain partner suka badminton, alfiah yang selalu mengagumkan semangatnya, aziz yang tingkat sayangnya ke IMM udah klimaks, rainggo yang selalu gombalin cewe2, sampe 3 kakanda yakni mas Lalu ,mas Fikri, mas Ibnu yang sama2 jomblo akut..)
Ibnu sina juga mempertemukan saya dengan partner terkeren, mas rasyid dan faqih.. saya belajar banyak dari kalian bung haha.. Tak lupa affan serta burhan yang semakin mewarnai Ibnu Sina..
Disamping dari orang-orang yang ada di dalamnya, Ibnu Sina mengajarkan saya banyak hal dalam berorganisasi. Mulai dari keluar dari zona nyaman ( udah 6 tahun expert jadi bendahara dan tiba2 jadi sekertaris itu nyebelin sih haha), berjuang memberikan kenyamana buat teman-teman di dalam organisasi ( hampir semua organisasi kan pada suka kabur-kaburan anggota tuh haha), hingga pengalaman baru bergabung di dunia pergerakan serta organisasi ekstra kampus...
Mungkin ga bakal nama-nama tadi membaca tulisan unyuk ini, maka dari itu saya mau bilang, walaupun saya sering bilang mau mengundurkan diri lah, capek lah, mau ngurus organisasi lain lah, atau apalah apalah yang lain, tapi bagi saya, saya sudah jatuh cinta pada ibnu sina.. Dan saya rasa saya jatuh cinta pada hal yang benar, maka benar kata dewi lestar, "Tuhan , jika aku jatuh cinta pada yang baik, maka jatuhkan aku sejatuh-jatuhnya"... Sepertinya tuhan membuat saya mencintai IMM, Ibnu Sina sejatuh-jatuhnya...
Kalau mau minjem cerita mbak dewi lestari lagi, Ibnu Sina itu ibarat madre dalam hidup saya... Benda asing yang dalam waktu sekejap mengubah hidup saya...
Madre membawa keluarga, kebahagiaan, perjuangan, bahkan cinta... mungkinkah di Ibnu Sina saya juga akan menemukan cinta? Cinta pertama dan terakhir yang akan menjadi satu bintang di langit kelam saya... Who knows? saat saya sudah mengetahui jawabannya, InshaAllah saya akan kembali menuliskannya disini...
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar